Tampilkan postingan dengan label History Of Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History Of Music. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2013

HAMMERSONIC FEST ( Terbesar di ASIA TENGGARA )

Selamat Datang di Ticket Box Hammersonic!


Hammersonic merupakan festival musik metal yang diklaim sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dan menghadirkan 26 band lokal dan internasional, diantaranya Suffocation, Nile, Chthonic, Burgerkill, Deadsquad, dan Seringai. Panitia menyediakan dua panggung kembar bersisian, Hammer Stage dan Sonic Stage, yang memungkinkan penonton menikmati sajian cadas nonstop tanpa diganggu tetek bengek persiapan band. Satu band selesai di salah satu panggung, band di panggung yang lain langsung menggempur, silih berganti.

Backdrop yang disediakan panitia untuk pengunjung yang hendak mengabadikan eksistensinya di festival ini.

Panggung Kembar siap menggempur silih berganti.

Sesuai jadwal tepat pukul 09.30 festival dibuka oleh Straightout, unit Death Metal asal Indonesia, yang kemudian diikuti Funeral Inception (Death Metal, Indonesia), Dead Vertical (Grindcore, Indonesia), Massacre Conspiracy (Metalcore, Malaysia), Down For Life (Indonesia), Dawn Heist (Australia), Human Like Monster (Death Metal, Indonesia) dan Divine Codex (Death Metal, Italia).

Divine Codex, aksi Death Metal asal Italia.

Sejumlah line up terlihat berkeliaran diantara kerumunan penonton. Contohnya personel The Arson Project  ini. 

Matahari yang kian menyengat tak menurunkan atensi penonton ketika Noxa naik ke atas panggung, yang mewarnai aksi mereka dengan sejumlah cacian terhadap Super Junior. Suhu moshpit semakin panas ketika sang vokalis turun panggung dan bergabung dalam tarian liar. Sayang beberapa kali vokal Tonny Pangemanan hilang ditelan instrumen lain akibat mikrofon yang mati. Selanjutnya Impiety (Death Metal, Singapura), The Arson Project (Grindcore, Swedia), Death Vomit (Death Metal, Indonesia), Cyanide Serenity (Inggris), dan Nothnegal (Maladewa) berturut-turut tampil. Ketika GxSxD (Death Metal, Jepang) naik pentas, masalah sound terdengar semakin menjadi-jadi sehingga penampilan band Timur Jauh ini terasa kurang menggigit. Hal ini terbukti ketika acara ditunda beberapa menit untuk perbaikan. Penampilan Seringai dan Koil kemudian menjadi tumbal, dimana durasi tampil kedua band ini terpaksa dikurangi.

Tarian yang semakin liar ketika Tonny, vokalis NOXA, turun ke moshpit.

Krisna Sadrach, muncul di tenda operator panggung.


GxSxD, yang penampilannya terganggu masalah sound.

Penampilan Seringai merupakan salah satu yang paling saya tunggu. Dua hari sebelum festival digelar, unit High Octane asal ibukota ini meluncurkan singel Tragedi di dunia maya untuk diunduh gratis. Sayangnya dalam momen terebut saya masih terjebak dalam kereta ekonomi. Sonic Stage kemudian menjadi saksi ketika Tragedi dibawakan pertama kali diatas panggung. Tragedi sendiri akan menjadi bagian dari album terbaru Seringai, Taring, yang akan dirilis pada Juni 2012. Koil kemudian menyusul. Seperangkat aktivis Industrial Rock asal Kota Kembang ini menggempur dengan (sayangnya) hanya lima lagu, antara lain Aku Lupa Aku Luka, Nyanyikan Lagu Perang, dan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Aksi banting gitar a la Otong tak luput disajikan. Seringai dan Koil saya catat merupakan dua band yang mengundang koor massal paling meriah.

Dilarang di Bandung, membuka penampilan Seringai.

Koil memikat, dan membanting gitar.

Usai break maghrib 30 menit, festival dilanjutkan oleh penampilan Dreamer, unit Doom Metal lokal yang memamerkan vokalis dan sejumlah lagu baru, seperti War of Kurusetra. Kemudian Chthonic, Band Taiwan yang terasa paling memanjakan mata. Penyebabnya tak lain atas kehadiran bassist Doris Yeh yang namanya tak henti dielu-elukan sepanjang penampilan. Vokalis Freddy Lim sempat memancing tawa karena berulang kali melafalkan, maaf, kata F*ck dalam Bahasa Indonesia (Ng*ntot. Red) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Taiwan. Sayang satu-satunya lagu mereka yang saya kenal (Bloody Waves of Sorrow. Red) tak dimainkan malam itu. Meskipun demikian penampilan Chthonic malam itu dan balutan musik oriental yang mereka sisipkan mendapat kredit khusus dimata saya.

Menikmati Dreamer dari layar samping panggung.

Doris Yeh, bassist Chthonic, dalam balutan cahaya ungu. Keindahannya biar kami nikmati sendiri.

Usai Chthonic, Sucker Head, salah satu dedengkot Thrash Metal Indonesia, menggempur Sonic Stage. Usia yang semakin beranjak tua agaknya tak menghalangi Oom Krisna Sadrach dkk untuk tampil menghibur. Kemudian D.R.I, band Hardcore legendaris asal Amerika Serikat, sukses mengajak ribuan penonton berpogo ria. Disusul Burgerkill (Indonesia), Psycroptic (Death Metal, Australia), dan Deadsquad (Death Metal, Indonesia).

Burgerkill salah satu aksi metal terbaik tanah air.

Nile kemudian menghentak Hammer Stage dengan alunan Death Metal rapat dengan bebunyian etnik padang pasir (Mesir khususnya). Lepas tengah malam Hammersonic diakhiri oleh penampilan Suffocation, unit (lagi-lagi) Death Metal yang datang jauh-jauh dari Amerika Serikat sebagai salah satu headliner. Selama satu jam vokalis Frank Muller aktif mengajak penonton untuk ber-moshing ria sembari dirinya (seolah) menari Tortor mengikuti gebukan pedal drum. Saya amat berbahagia ketika permintaan encore penonton yang mambahana dipenuhi, sehingga (lagi-lagi) satu-satunya lagu yang saya kenal dari band ini, Infecting the Crypts, digeber diatas panggung, sekaligus menutup secara resmi festival ini.

Para penonton terlihat membiru ketika Suffocation tampil menutup gelaran Hammersonic.

Diantara wajah-wajah yang terpuaskan, terdapat sejumlah hal yang masuk catatan kecil metalhead kelas teri dan bau kencur seperti saya. Pertama, mekanisme antri secara subyektif saya nilai kurang rapi akibat ketiadaan pagar pembatas antrian. Para penonton yang ingin segera masuk awalnya berbaris rapi terlihat berebutan ketika diujung antrian tiba di depan ticket box. Saya sempat  dibuat kesal oleh masalah ini. Kedua, porsi antar sub genre dalam mengisi festival terasa kurang seimbang, dimana band Death Metal mendominasi line up. Barangkali wajar, mengingat salah satu cabang metal ini memang tumbuh bak jamur di musim hujan dalam skena bawah tanah lokal. Contoh kecil, di Ujungberung saja sebagai salah satu wilayah di Kota Bandung tercatat lebih dari 600 band yang bermain di ranah ini (Kimung, dalam Radio Show TV One). Hal ini  barangkali menjadikan band-band Death Metal dipilih sebagai penarik massa sehingga dilebihkan porsinya. Sayangnya, Indonesia juga masih punya ratusan aksi dari sub genre lain, sebut saja Kelelawar Malam, Komunal, Rajasinga, dan masih banyak lagi, yang layak diperkenalkan ke dunia.

Akses Keluar Masuk area festival.
Ketiga, dan yang terpenting, festival ini jelas menjadi ajang  komparasi sembari membuktikan bahwa skill penggiat musik bawah tanah lokal tak jauh berbeda (jika tak mau dibilang melebihi) dibandingkan musisi-musisi luar negeri. Saya dibuat terkagum melihat kemampuan para aksi lokal, Stevie Item dari Deadsquad misalnya,  memainkan nada-nada gitar yang terdengar rumit di telinga saya yang buta nada. Tak kalah memukau dibanding paras Doris Yeh (ah, dia lagi). Terlepas dari semua itu, Hammersonic tetap berhasil, sesuai namanya, memberi sensasi pukulan palu yang bertalu-talu ke wajah dan telinga lebih dari 15.000 manusia beruntung melalui sound ribuan megawatt yang dipertontonkan. Keep metal flag flying high!

Jumat, 01 Februari 2013

Sejarah Trash metal Barat & Indonesia



Thrash metal (kadang-kadang disingkat menjadi thrash), adalah sebuah extreme metal subgenre dari heavy metal yang berciri memiliki tempo yang cepat dan agresiv. Lagu-lagu thrash metal biasanya menggunakan stem gitar nada rendah dan perkusi yang cepat. Lirik-lirik thrash metal sering mengangkat tema masalah-masalah sosial menggunakan bahasa yang kasar dan mendalam, sebuah pendekatan yang sebagian mirip dengan genre hardcore. Band "Empat Besar" atau "Big Four" thrash metal adalah Anthrax, Megadeth, Metallica, dan Slayer, yang secara bersama-sama dan memopulerkan genre ini diawal tahun 1980-an. Ada pula yang mengatakan bukan lagi "Empat Besar" tetapi menjadi "Lima Besar" Megadeth, Slayer, Exodus, Pantera, and Metallica.  Di Eropa style ini dibawa oleh tiga band asal Jerman, yaitu Kreator, Sodom, dan Destruction. Testament dan Exodus dari San Fransisco, Overkill dari New Jersey dan Sepultura dari Brazil. Sekitar 16 tahun yang lalu, Underground Metal, mulai muncul di industri musik barat. Tampil dengan 2 jenis yang berirama cepat dan yang berirama sedang (slow).
     Asal muasal thrash metal secara umum dijejaki pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, ketika beberapa band mulai menggabungkan sound dari New Wave of British Heavy Metal, menciptakan sebuah genre baru dan mengembangkan kedalam gerakan yang terpisah sendiri dari punk rock and hardcore. Genre ini lebih agresiv dibandingkan speed metal. Sering kali dicampurkan dari kategori metal yang satu dengan metal yang lain, dan juga beberapa band ada yang menggabungkan pengaruh musikal dari genre non-metal.

     Aliran Slow Metal dijuluki “Heavy sludge sound” yang aslinya dari sound Black sabbath. Band-band dengan aliran ini adalah Candlemass, St. Vitus dan Trouble. Sekarang ini muncul beragam gaya Metal underground, dari yang agressif dan bertenaga hingga yang memiliki nuansa “New Millenium ”.

    Metal underground berkembang dan menyebar hingga hampir ke seluruh bagian dunia, bahkan sampai seperti dikatakan seorang editor majalah musik "Perkembangan musik ini bagaikan cabang “McDonald” yang ada hampir diseluruh dunia."
     Metallica adalah band dengan aliran ini, seperti kita ketahui mereka telah menjadi icon industri ROCk dengan BLACK ALBUMnya yang fenomenal. Sampai sekarang Thrash Metal-lah salah satu Underground Metal yang paling banyak mendapatkan perhatian dari Major Label (industri rekaman ternama).
Terpengaruh oleh band dari inggris, Thrash Metal lebih-lebih berkembang di Amerika (kecuali Sepultura yang berasal dari Brazil).

     Di awal tahun 80-an aliran Thrash Metal menghasilkan Masterpiece-masterpiece yang artistik seperti  Master puppets, Metallica (elektra 1996),  Reign in Blood, Slayer (American 1986), dan Arise, Sepultura (Road runner 1991)
     Slayer dinobartkan sebagai "The King of Underground Metal" selama 1 dekade dan masih dihormati sampai sekarang ini, tetapi mungkin, band Thrash Metal terbesar adalah Pantera yang terakhir mengadakan konser resmi 101 proof (Eastwest).
Jika kalian mengira bahwa Indonesia tidak mempunyai band thrash metal legendaris, maka sangat salah. Karena Rotor grup pengusung thrash metal asal Jakarta ini kembali bangkit dari kuburnya selama bertahun-tahun dan siap berotasi kembali.

    Band yang terbentuk tahun 1991 ini merupakan dedengkot musik metal dan menjadi legenda di Indonesia. Dan mereka kali ini kembali mengeluarkan rilisannya walaupun bukan rilisan baru. Mereka merilis ulang album 4 lamanya, BEHIND THE 8TH BALL (1992), ELEVEN KEYS (1995), NEW BLOOD (1996), MENANG (1997) yang telah di remastered. Dan nantinya akan dikompilasikan menjadi dua CD berisi 35 lagu dalam satu kemasan dan keluar di pasaran bulan Oktober ini.
 
    Album ini mungkin akan menjadi koleksi wajib para metalhead tanah air, pasalnya album-album lama mereka yang masih format kaset sudah langka di pasaran. Single-single seperti Nuclear Solution, Behind The 8th Ball, Pluit Phobia, Eleven Keys juga terdapat di album diskografi ini. Tak hanya itu saja album ini juga mencantumkan lagu-lagu yang belum pernah dirilis saat Alm Jody yang juga mantan suami Ayu Azhari ini mengisi vokal.

    Dan kabar yang mengejutkan lagi band yang pernah menjadi pembuka Metallica dan welcome show Sepultura ini kabarnya bereuni kembali dan segera melakukan perjalanan tur Eropa untuk mengenalkan kembali musiknya di sana. Dan di tahun 2011 nanti Rotor akan melakukan tur di beberapa kota di Indonesia.
Rotor sebelumnya sempat vakum di tahun 1998 karena beberapa personelnya meninggal akibat overdosis obat-obatan. Personel asli Rotor saat ini hanya menyisakan M Irvan Sembiring (gitaris) yang juga menjadi pendakwah setelah membubarkan Rotor. Dan kali ini mereka siap untuk kembali menyerukan metal di Indonesia.
     Betrayer adalah Thrash Metal band dari Jakarta yang beranggotakan Lilik Wardiandi (vokal / gitar), Garry Martin (gitar), dan Doddy (bass), kini tidak lagi bersama Akbar (drum) yang telah mengundurkan diri dari band untuk lebih serius di The Superglad. Penggantinya adalah Endro, seorang kawan lama Lilik di band Blame dan merupakan instruktur drum di Institut Musik Indonesia (IMI).
     Setelah 16 tahun berdiri, beberapa kali bongkar pasang personel dan 4 album penuh, Betrayer akhirnya merilis album The Best of Betrayer masih di bawah label Pops / Aquarius Musikindo setelah mereka absen selama 3 tahun.


sumber : http://naturaldestroyed.blogspot.com

Sejarah Goregrind

Goregrind, juga dikenal sebagai gore grind, gore/grind atau gore-grind adalah sebuah genre musik yang dipengaruhi oleh grindcore, death metal dan crust punk. Sebagai sebuah nama, goregrind dapat dilihat sebagai sub-genre dari grindcore dan juga death metal.

Sejarah

Carcass salah satu pelopor sub-genre goregrind, salah satu foto album sadisnya
Awalnya dimulai dari band Inggris Carcass,[1] dan lebih kurang meluas sampai ke band Amerika Impetigo, yang memulai kariernya di akhir 80-an. Carcass menggunakan perpindahan tentuan nada, citra medis dan host hubungan mendalam ketika merencanakan membentuk band, sebuah penyimpangan dari scene hardcore dan grindcore yang biasanya selalu menggunakan lirik-lirik politik atau sayap kiri.

Karakteristik

Band goregrind biasa menggunakan vokal dengan nada yang sangat rendah, menciptakan tekstur degukan nada rendah yang sangat unik, hampir sama dengan efek-efek yang digunakan dalam film horor untuk orang yang sedang kesurupan, setan, karakter mayat hidup. Akibat pendistorsian vokal ini maka liriknya tidak dapat di pahami, tetapi mereka sering membuatnya kedalam cetakan tertulis. Subyek liriknya sering menampilkan tema-tema kekerasan yang ekstrem termasuk darah kental, patologi forensik, kematian dan perkosaan. Beberapa band seperti GUT, fokus ke lirik-lirik yang menggambarkan citra pornografi dan di kategorikan sebagai pornogrind atau porngrind. Liriknya kadang-kadang memiliki pengucapan yang jelas seperti dalam film horor Z-grade dan tidak usah di anggap serius. Gitar dan drum dimainkan dalam kecepatan tinggi sama seperti grindcore dan brutal death metal.
Contoh-contoh band goregrind bands termasuk Dead Infection, Haemorrhage, Inhume and Regurgitate.

Rabu, 30 Januari 2013

Sejarah Kata "Panceg Dina Galur" (Komunitas Metal Bandung)






Panceg dina galur/babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan awak lebur…” (Teguh dalam pendirian, bersama-sama menjaga kampung dan persaudaraan. Tidak akan bergeming walaupun badan hancur lebur). Petikan naskah kuno Amanat Galunggung yang dituliskan Rakeyan Darmasiksa (Raja Sunda Kuno yang hidup pada 1175-1297 Masehi) itu disadur menjadi lirik lagu berjudul ”Kujang Rompang” oleh Jasad, sebuah band beraliran death metal asal Bandung. Lagu ini ikut memeriahkan Deathfest IV, festival akbar death metal yang diadakan di Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Bandung, Sabtu (17/10). Ribuan anak muda, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa, larut dalam hiruk-pikuk event musik metal yang disebut-sebut terbesar di Asia ini.
Meski pertunjukan musik baru mulai selepas maghrib, pada siang hari yang sangat terik itu mereka sudah nongkrong menunggu band-band idola mereka manggung. Sambil mengenakan kaus hitam bermotif seram dan atribut metal lainnya, mereka antusias menunggu.

Filosofi panceg dina galur bukanlah sekadar inspirasi dalam berkarya musik bagi Jasad, melainkan juga menjadi pandangan hidup seluruh anggota dan penggemar musik metal di Bandung, khususnya yang bernaung di daerah Ujungberung.

”Mau seperti apa pun kita, macam mana bungkusnya, yang penting grass root (akar bawah) harus kuat. Harus sadar dan jangan lupakan budaya kita,” ujar Mohammad Rohman, vokalis Jasad.

Bagi masyarakat awam, bahkan dibandingkan komunitas band metal lainnya di Indonesia maupun dunia, keberadaan subkultur band death metal asal Ujungberung ini merupakan sebuah paradoks. Musik metal, tetapi lirik dan pesan nyunda adalah perpaduan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Ketika di banyak tempat sub-subkultur atas nama aliran musik berhaluan Barat macam punk, grunge, maupun grindcore gencar melakukan perlawanan budaya lokal, entitas penggemar musik metal Ujungberung yang berada di wadah Ujungberung Rebels dan Bandung Death Metal Sindikat itu justru melakukan hal sebaliknya.

Sebagai contoh, konser Death Festival IV yang diikuti 12 band death metal itu mengangkat tema kampanye penggunaan aksara kuno. Di festival yang menjadi salah satu pembuka penyelenggaraan Helar Festival 2009 (festival industri kreatif di Bandung) itu, panitia membagi-bagikan leaflet mengenai cara menulis aksara sunda kuno kagana kepada penonton yang rata-rata masih berusia ABG.

”Di sekolah-sekolah, saya lihat, ini (kagana) tidaklah diajarkan. Daripada kelamaan menunggu pemerintah bertindak, kami duluan saja yang mulai bergerak,” ujar Rohman yang biasa disapa Man ”Jasad” ini di sela-sela konser.

Di luar panggung, Man dan kawan-kawannya kerap memakai iket kepala sebagai penanda identitas kultur Sunda. Meski, sehari-harinya mereka tidak lepas dari jaket kulit hitam maupun aksesori anting-anting dan tato.

Upaya mengenalkan tradisi Sunda tidak terhenti di sana saja. Di dalam berbagai kesempatan, anak-anak Bandung Death Metal Sindikat kerap menyisipkan pertunjukan karinding, celempung, dan debus.

”Kesenian karinding yang selama 400 tahun tenggelam coba kami hidupkan kembali,” tutur Dadang Hermawan, anggota Bandung Death Metal Syndicate. ”Di tiap Minggu dan Jumat melakukan tumpek kaliwon di Sumur Bandung dan Tangkuban Parahu untuk membicarakan kesenian Sunda,” tutur Man Jasad kemudian.

Terbanyak di dunia

Kelompok band metal yang ada di Ujungberung bahkan disebut-sebut yang terbanyak di dunia. Sejak awal 1990-an hingga kini, band-band metal tumbuh subur di Ujungberung. Saat ini terdapat sekitar 200 band metal hanya di wilayah pinggiran Kota Bandung ini.

”Padahal, Bandung hanya kota kecil jika dibandingkan dengan kota-kota di Jerman. Apalagi, di sini band-band ini kan harus dikondisikan bisa bertahan hidup di tengah banyak persoalan dan tekanan aparat,” tutur Philipp Heilmeyer, mahasiswa sosial-antropologi Goethe Universitat Frankfurt, terheran-heran.

Philipp sudah tiga bulan ini berada di Bandung untuk melakukan prapenelitian mengenai kehidupan kaum metal di Ujungberung ini. Hal lain yang menarik perhatiannya adalah mengapa komunitas metal di Ujungberung ini bisa bertahan justru dengan tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

”Di Jerman, kaum metal biasanya lekat dengan kebiasaan mabuk-mabukan dan narkoba. Tetapi, mereka di sini malahan melakukan ini,” ucapnya sambil merujuk kegiatan sosialisasi aksara kagana yang dilakukan Bandung Death Metal Sindikat.

Yang disesalkan Aris Kadarisman (35), pentolan grup band Disinfected, masyarakat, khususnya kepolisian, melihat kaum metal justru dari sisi kelamnya.

Perang melawan stigma bahwa musik metal tidak identik dengan kekerasan, narkoba, dan semacamnya menjadi semakin sulit pascatragedi konser maut grup band Beside di Asia Africa Culture Center yang mengakibatkan tewasnya 11 penonton, Februari 2008. ”Padahal, ini terjadi lebih karena persoalan teknis, tidak cukupnya kapasitas tempat,” ucapnya.

Kemandirian ekonomi

Di tengah-tengah dorongan untuk mewujudkan mimpi memiliki gedung konser yang representatif, anak-anak metal ini seolah-olah terusir dari kota kelahirannya. Konser di gedung maupun tempat terbuka kini menjadi hal langka buat mereka. Deathfest IV pun bisa terwujud karena menggandeng kegiatan Helarfest 2009.

Kondisi ini pun disayangkan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil. Menurut dia, jika dilihat lebih jauh dari dalam, komunitas metal di Bandung menyimpan keunggulan yang luar biasa besar. Keunggulan itu terutama soal kemandirian ekonomi.

Dari musik yang diciptakan, didukung loyalitas para penggemarnya, secara tidak langsung itu menumbuhkan pula industri fesyen, rekaman, bahkan literasi.

Setidaknya, ada enam titik simpul industri fesyen yang dirintis sesepuh band metal di Ujungberung semacam Scumbagh Premium Throath yang didirikan almarhum Ivan Scumbag dari Burgerkill.

”Jika musisi lain itu filosofnya adalah musik untuk kerjaan, kami justru sebaliknya. Dari kerjaan, bisnis, ya untuk menghidupi musik,” tutur Dadang. ”Sebab, musik ini adalah the way of life kami. Tidak semuanya bisa dinilai dengan uang. Art is art, money is money,” ucap Man Jasad menimpali.

Tidak diragukan lagi, kekuatan ketabahan hati dan pikiran inilah yang membuat kelompok metal di Bandung ini tetap bertahan. Persis sesuai dengan paradigma mereka: panceg dina galur, moal ingkah najan awak lembur! (Yulvianus Harjono)

Sumber : Kasundaan.org

Selasa, 22 Januari 2013

Sejarah Musik Metal

Metal, musik yang mulai banyak di minati orang saat ini. metal yang memiliki banyak sub-genre ternyata di mulai oleh genre heavy metal dan di sinilah mulai terbentuknya genre METAL dan beberapa sub-genre setelah berselang nya waktu.


ERA HEAVY METAL

Nama Heavy metal digagas oleh Band Hard Rock Tahun 60'an Steppenwolf, dalam lagu mereka yang berjudul 'Born To Be Wild' (ada di baris kedua bait kedua: "I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin' with the wind And the feelin' that I'm under".)
Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album debut album mereka yang berjudul 'Black Sabbath'.
Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC yang Classic metal dan disekitar 60an sampai 70'an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Musiknya dikendalikan oleh riff yang lebih bluesy.


Evolusi musik

70'an

Heavy Metal awal 70'an digawangi oleh band-band seperti Led Zepplin, Black Sabbath, dan Deep Purple, Heavy Metal pada era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen Blues yang kental. Judas Priest mengembangkan genre ini dengan menghilangkan unsur blues dan lebih mengandalkan distorsi, beat yang lebih cepat, dan harmoni. Pada akhir 70'an munculah New Wave oF British Heavy Metal yang dipelopori Motorhead, NWOBHM menggabungkan Punk dan Heavy Metal. Band-band NWOBHM lainya adalah Iron Maiden, Saxon, Venom, Diamond Head, dll.


Awal 80'an

Awal era 80'an Di gawangi oleh band-band NWOBAM seperti Motorhead, Iron Maiden, Venom dan Diamond Head. Heavy Metal akhirnya bertabrakan dengen musik Pop hal ini memunculkan genre yang disebut Glam Metal, Glam Metal berhasil menerobos chart-chart papan atas, hal ini menyebabkan Heavy Metal lebih tersebar cepat di seluruh dunia


Underground Metal: 1980, 1990, dan 2000-an

Thrash metal dan Speed metal

Tempo lagu sangat cepat yang diusung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm Downstroke pada Thrash metal oleh band-band seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax yang dijuluki Big Four Of Thrash. Di San Francisco ada Testament dan Exodus, di New Jersey ada Overkill, dan Sepultura dari Brazil.
Sedangkan Speed metal dimainkan lebih cepat sangat-sangat cepat dan bertenaga seperti Motörhead (akhir-akhir), Iron Angel, Anthrax. Sedangkan musik Thrash metal yang berasal dari Eropa adalah seperti, Kreator dan Destruction, keduanya dari negara Jerman.

DEATH METAL

Pada tahun 1990'an, underground ini lebih memasuki ke Extreme metal seperti Grindcore dipelopori oleh Napalm Death dan Brutal Truth, berkembang pada 1991 menjadi Death metal Scandinavia oleh Entombed, Dismember, Unleashed, dan At The Gates.
Melodic Death metal yang berasal dari Gothenburg Swedia lalu berkembang di Finlandia dan Norwegia oleh band-band seperti Arch Enemy, Dark Tranquillity, Disessction.
Kemudian ada istilah yang digunakan yaitu, Techical metal di pioniri oleh Cynic, Atheist, Meshuggah, Death. Chuck Schuldiner (Vocalis Death) adalah 'Bapak Death Metal'
Progressive Death metal yang mungkin lebih cenderung ke visualisasi dan banyak menggunakan musik Tradisional, Pionirnya adalah Opeth, Pestilence, Death, Novembre, dan Progressive metal oleh Dream Theater, Queensryche, dan Fates Warning.

BLACK METAL

Aliran ini muncul sekitar awal dan pertengahan tahun 1980-an, yang diprakarsai oleh band-band cadas seperti Venom, Hellhammer, Celtic Frost, dan Bathory. Pada akhir 80-an band Mayhem dan Burzum mengarah kedalam black metal gelombang kedua.

Power metal

Power Metal adalah genre yang lebih bersemangat dan vokalis genre ini kebanyakan di pengaruhi oleh Rob Halford dan Bruce Dickinson. Band-band genre ini kebanyakan dari Eropa. Misalnya, Europe (Swedia), Iron Maiden (U.K), Helloween (Jerman).

DOOM METAL & GOTHIC METAL

Doom Metal adalah aliran yang lebih mengutamakan penekanan lirik, dengan tempo yang dibawah rata-rata subgenre Extreme Metal lainya, aliran ini terinspirasi oleh Black Sabbath era pertama, band yang termasuk aliran ini contohnya adalah Saint Vitus, Obsessed dan Candlemass.
Gothic Metal adalah evolusi Doom Metal, awal genre ini adalah munculnya band-band Death/Doom dari inggris yaitu My Dying Bride, Paradise Lost, Anathema, band Gothic Metal sekarang banyak mengandalkan harmoni antara vocal pria dan wanita (kadang-kadang dengan growl).

90'an

Pada era 90'an musik Heavy Metal mulai digoyang oleh munculnya kekuatan Alternative Rock khususnya Grunge, band-band Glam Metal pada era 80'an mengalami penurunan popularitas, publikasi pada saat tersebut mentitik beratkan pada Grunge. Sementara itu band-band seperti Metallica, Pantera, Tool, White Zombie dan Megadeth menjadi ujung tombak keberadaan musik metal saat tersebut.

Alternative metal

Alternative metal adalah salah satu subgenre metal yang paling populer di awal 90'an. ketika popularitas Glam Metal mulai tenggelam akibat kemunculan Grunge pada akhir 80an. Alternative Metal digunakan untuk mendeskripsikan band-band seperti Faith No More, Primus, Rage Against The Machine dan Jane's Addiction yang mengfusikan Heavy Metal dan Alternative Rock.
Selain itu ada Industrial metal yang diprakasai band seperti Ministry, Godflesh, Fear Factory dan Marilyn Manson. Industrial metal juga tumbuh pesat di Jerman. band seperti Rammstein, Oomph!, Megaherz meraih popularitas yang cukup tinggi baik di negara asalnya dan juga dataran eropa.
Lalu ada Punk Metal atau Crossover Thrash adalah percampuran Trash Metal dengan element-element kental dari Hardcore Punk. Suicidal Tendecies, Stromtroopers of Death, Corrosion of Conformity dan Dirty Rotten Imbeciles adalah sebagian band yang mengusung genre ini.
Kemudian ada Groove Metal, adalah evolusi dari genre Trash Metal yang muncul awal 90'an genre ini digawangi oleh Pantera, Sepultura, White Zombie dsb.
Nu Metal, Genre alternative metal yang terakhir adalah metal modern yang bermain dengan nada Industrial. Banyak band-band Korn, Slipknot, Limp Bizkit, Deftones hingga Disturbed.

GRUNGE

Tahun 1990-an ketika wabah musik Grunge yang awalnya adalah percampuran kental antara Heavy Metal dan Post-Punk bahkan Hardcore bermunculan di Seattle, walaupun sedikit cenderung ke Alternative rock. Band Grunge dari Seattle, seperti Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam, dan Alice in Chains sebelum band itu ada sebenarnya grunge sudah ada oleh band-band seperti Malfunkshun dan Green River setelah itu ada Temple of the Dog Mad Season, Mudhoney sampai Melvins. Setelah kematian Kurt Cobain musik Grunge jarang datang lalu kembali di-ilhami dengan band-band seperti Skin Yard dan PJ Harvey. Jika suatu band memainkan musik Grunge tapi band itu bukan berasa dari Seattle. Nama yang dipakai bukanlah Grunge, tetapi Post-Grunge seperti L7, Stone Temple Pilots, Paw, Hole.


Perkembangan terkini

Metal di era 2000'an (sekarang) memiliki perbedaan yang cukup besar, dalam artian bahwa metal bisa berfusi dengan berbagai macam aliran. Sebagaimana diketahui para pelopor musik metal, penikmat musik metal disuguhi berbagai macam jenis metal dengan tempo yang harmonis dan dinamis. Beberapa aliran itu adalah Nu Metal, Symphonic Metal , Deathcore, Metalcore, Melodic Death Metal, Folk Metal, dan sebagainya.

FOLK METAL

Folk Metal adalah fusi Heavy Metal dengan musik folk (musik daerah), aliran ini digawangi oleh band-band sepertik Korpiklaani, Skyclad, Ensiferum, Fiintroll, Turisas, dsb.
Walaupun kebanyakan musik Folk Metal lebih banyak berkembang di Skandinavia, Folk Metal juga berkembang di timur tengah seperi Orphaned Land dan Melechesh.

MELODIC DEATH METAL

Melodic Death Metal sendiri berkembang pesat di Skandinavia, khususnya Gothenburg. Band-band seperti In Flames, At The Gates, Dark Tranquillity, Arch Enemy dan Soilwork. Selain di Skandinavia Melodic Death Metal juga berkembang di regional lain seperti Children of Bodom, Kalmah dan Norther (Finlandia),The Black Dahlia Murder, Darkest Hour and Himsa (Amerika Serikat), Switchblade, Daysend,Infernal Method (Australia),Disarmonia Mundi (Italy), Blood Stain Child (Japan) and Death Scythe (Mexico).

DEATHCORE

Deathcore berkembang sebagai turunan dari Death Metal dengan ciri khas lirik yang persis Death Metal, yaitu tentang kematian, neraka, setan, dan nuansa-nuansa mistik. Kebanyakan dari Death Metal adalah orang-orang atheis, sedangkan Deathcore kebanyakan adalah orang-orang agnostik.
Pada mulanya dipelopori oleh band-band seperti Dying Fetus, Suffocation, Crytopsy, dsb. Pada era 2000'an semakin banyak band deathcore yang bermunculan seperti Job For A Cowboy, The Red Chord, All Shall Perish, Bring Me the Horizon, dll.
Deathcore sendiri cenderung bertempo cepat, hampir mirip aliran metal old school yang bersifat hancur-hancuran namun masih ada grip-grip yang melodian.

New Wave of American Heavy Metal

New Wave of American Heavy Metal (atau biasa disebut Metalcore) adalah gabungan dari Extreme dengan Hardcore. Genre ini muncul belakangan pada era pertengahan 90'an. New Wave of American Heavy Metal dipengaruhi oleh band-band seperti Machine Head, Pantera dan Biohazard.
Musik metalcore memiliki ciri khas berupa gitar stem drop D sampai C, kadang-kadang full scream. Biasanya, metalcore dalam hal gitar ritmik tidak serumit death metal namun band-band metalcore kebanyakan bermelodi cadas dan rumit. Jika tidak bermelodi, biasanya ritmiknya yang rumit. Namun nada-nada metalcore tidak seperti death metal yang bernuansa seram, setan, neraka, dan sebagainya.
Band-band metalcore antara lain Avenged Sevenfold, Lamb of God, Killswitch Engage, All That Remains, Darkest Hour, God Forbid, Shadows Fall, Trivium, Haste The Day, Walls Of Jericho,Unearth, Bullet For My Valentine, dan sebagainya

MATHCORE

Mathcore adalah perkembangan dari Metalcore yang memiliki ritme yang kompleks dan memiliki progressivitas yang tinggi. Band-band Mathcore banyak dipengaruhi band-band seperti Converge, Neurosis, Isis, dan The Dillinger Escape Plan. Band-band Mathcore yang baru-baru ini menuai popularitas adalah Protest The Hero, The Human Abstract, dll.